PENDIDIKAN BERORIENTASI KECAKAPAN HIDUP

LIFE SKILL EDUCATION ( tulisan pertama )

OLEH : EDY SUYATNO

Tidak dimengerti, mengapa    ada kehebohan ‘ nyontek masal’ pada suatu sekolah Dasar di Surabaya. Ada joki ujian Nasional tingkat SMP di Bojonegoro , ( jawa Pos 10 Juni 2011)  dan berbagai isu ketidak jujuran dalam pelaksanaan ujian SMA?     Seperti  pada  saat pengumuman Ujian SMA dan Surabaya tidak masuk (10 besar)  urutan terbaik di Jawa Timur, Ada komentar dari tokoh pendidikan dan Kepala Dinas Pendidikan, bahwa     Surabaya tidak masuk  10 besar tidak masalah yang penting adalah adalah   adanya kejujuran adalam pelaksanaan ujian. Ini memang benar.  Tapi  benarkah tidak masuk 10 besar, juga karena  kejujuran ?  tidak tahu !

Jika memperhatikan pernyataan  tersebut dan melihat gejala yang terjadi, penulis dapat mengatakan ketidak jujuran sudah mewabah dikala pelaksanaan ujian nasional.  Itu terjadi karena proses  pembelajaran  berorientasi pada nilai ujian.          Guru/ Kepala Sekolah hanya mengejar bagaimana mendapatkan nilai ujian  dengan peringkat baik.  Mata pelajara non ujian nasional , tidak/ kurang mendapat perhatian sekolah.  Ironis.

Salah satu solusi adalah adanya ‘ PENDIDIKAN BERORIENTASI KECAKAPAN HIDUP ‘( LIFE SKILL EDUCATION)

Kecakapan hidup adalah : kecakapan yang dimiliki sesorang untuk menghadapi problema hidup dan kehidupan dengan wajar,   kemudian secara aktif mencari serta menemukan solusi sehingga mampu mengatasinya.

Mata pelajaran atau buku adalah alat sedangkan yang ingin dicapai adalah pembentukan kecakapan hidup.   Kecakapan hidup itulah yang diperlukan pada saat memasuki kehidupan sebagai individu yang mandiri.  Sebagai contoh :

Mempelajari matematika bukan sekedar untuk pandai matematika, bukansekedar untuk mendapatkan nilai ujian yang tinggi ,  tetapi agar seseorang dapat memanfaatkannya dalam kehidupan sehari- hari, membaca data,  menganalisis data, mempelajari imu lain dan seterusnya.

Demikian pula mata pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, bukan sekedar faham bahasanya, tapi mampu menggunakannya untuk bernalar,  mengungkapkan dan menyampaikan buah fikiran dalam bentuk komunikasi yang efektif.

Pendidikan Kewarganegaraan, bukan sekedar untuk memahami prinsip dan aturan kewarganegaraan, tetapi lebih dari itu, yaitu agar peserta didik mampu menerapkan pengetahuannya dalam kehidupannya sehari-hari .

Model evaluasi belajar pembelajaran berorientasi kecakapan hidup, dapat memilih model evaluasi otentik ( authentic evaluation), yaitu evaluasi dalam bentuk perilaku peserta didik dalam menerpkan apa yang telah dipelajarinya.  Paling tidak , dalam bentuk  evaluasi tersamar  ( shadow evaluation ). yaitu dalam bentuk pemberian tugas kegiatan untuk memecahkan masalah yang memang terjadi di masyarakat

semoga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

free counters
%d bloggers like this: