KASUS ‘SONTEKAN MASAL’ MOMENTUM KOREKSI UN

PELAKSANAAN UNAS HARUS DIKOREKSI

OLEH: EDY SUYATNO

Pelaksanaan Unas tahun 2010/ 2011 , muncul banyak persoalan.  Adanya joki pada  Unas SMP PGRI Bojonegoro ( Jawa Timur ), sontekan masal di SDN Gadel II Surabaya, Kasus di SDN Petang Pesanggrahan, Jakarta Selatan, yang para guru menginstruksikan siswa yang pandai agar berbagi jawaban dengan teman temannya.

Persoalan yang lain misalnya pada pengumuman kelulusan SMA beberapa bulan lalu, kebetulan Surabaya tidak masuk peringkat 10 besar. Ada  komentar dari birokrat pendidikan Surabaya bahwa’ Urutan rata-rata kelulusan tidak penting, yang penting  adalah kejujuran’.   Komentar dari tokoh pendidikan Jawa Timur juga demikian:’ tidak masalah  Surabaya tidak masuk sepuluh besar’.yang penting kejujuran

Hasil pengumuman Unas SD, Mojokerto menduduki peringkat 1 (satu ) dan Surabaya menduduki peringkat 18….. wow. Komentar dari Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur: ‘tidak masuknya Surabaya dalam peringkat 10 besar rerata nilai unas, hendaknya disikapi dengan obyektif. Sebab  Surabaya memiliki jumlah sekolah dan siswa lebih banyak dari pada sekolah lain, siswanya   juga lebih beragam….’ ( Jawa Pos, Minggu 19 Juni 2011 )

Kalau memperhatikan kasus kasus tersebut diatas, dan komentar bahwa  tidak masuk peringkat 10 besar tidak apa apa yang penting kejujuran.   apakah berarti daerah luar Surabaya, pada saat pelaksanaan Unas  tidak jujur ? Dan bagaimana  komentar  dari luar Surabaya atas komentar Kepala Dinas Jawa Timur, yang seolah  memberi pembenaran kepada Surabaya. Apa diluar Surabaya tidak memiliki  permasalahan ?

Lepas dari hal hal tersebut, UNAS menjadikan anak tidak jujur.  Unas menjadikan guru  bersaing  tidak sehat.  Membuat peringkat sekolah,  membuat peringkat kelulusan di masing masing tingkatan tidak membuat bagus. Unas membuat  lembaga sekolah hanya mementingkan mata pelajaran tertentu yang masuk unas. Mengabaikan mata pelajaran lain yang tidak masuk unas.  Mata pelajaran Agama  terabaikan, mata pelajaran Kewarganegaraan kurang mendapat perhatian sekolah, pelajaran Olah raga hanya sekedarnya, muatan lokal hanya formalitas saja.  Semua berfokus pada unas.     Kepala DinasPendidikan akan mencopot kepala Sekolahnya jika unas  tidak lulus 100% ( jawa pos, 19-6-2011)   Persaingan tidak sehat bisasaja muncul .           Jika demikian  Itu semua karena pelaksanaan Unas.  Unas Harus Dikoreksi.

Betapa tidak.  Jika memperhatikan  komentar pejabat Dinas pendidikan Surabaya dan komentar Tokoh Pendidikan Jawa Timur,  seolah olah, diluar  Surabaya  telah tercium  bau ketidak jujuran.Itu juga berarti  ketidak jujuran terjadi dimana mana.   Terjadi seolah ‘ kejujuran menjadi hal yang  langka’    . Ini karena pelaksanaan Unas.    Omong kosong jika para pengawas, pemantau Unas tidak tahu atas ketidak jujuran  pada pelaksanaan UNAS   .  Jika demikian tidak usah ada pemantau Unas saja. Sangatlah irons  jika pengawas independen  dari Perguruan Tinggi tidak tahu, dan atau tidak mau tahu.

Pelaksanaan Unas harus dikoreksi.  Setelah didesak berbagai pihak untuk  menghapus Unas, pihak Balitbang Kementerian Pendidikan sebagai salah satu pelaksana Unas, mengatakan bahwa pelaksanaan UNAS,  berdasarkan PP no. 19 tahun 2005. tentang standar Nasinal Pendidikan .Terutama pasal 67.   Jika menghapus unas harus mengubah PP. Jika tidak melaksanakan  unas berarti pelanggaran       Ah itu …… pernyataan emosional.

Mari kita tengok  PP no.19 tahun 2009 pasal 68, bahwa Ujian Nasiona digunakan salah satu pertimbangan untuk :  (a) pemetaan mutu program dan/ atau satuan pendidikan,  (b) dasar seleksai jenjang pendidikan berikutnya, (c) penentu kelulusan peserta didik dari program dan/ atau satuan pendidikan dan  (d)  pembinaan dan pemberi bantuan kepada satuan pendidikan dalam upayanya untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Sebagai bahan koreksi ada beberapa pertanyaan: (1)  jika sudah pemetaan mutu program, kok belum ada sosialisasi ?,bahkan  belum ada tindak lanjut  dari hasil pemetaan . (2)  Belum dipakainya dasar seleksi masuk pendidikan jenjang berikutnya. Contoh. Masuk PT masih  mengikuti tes (  dan  biaya mahal ) Masuk SMA, SMP di Surabaya, tidak pakai Ujian Nasional ? tapi  hasil kelulusan,  (3) Belum ada pembinaan yang terencana  hasil pemetaan atau belum ada tindak lanjut dari diklat pembinaan yang dimaksud, ( 4) sudah berapa banyak bantuan yang diberikan atas prestasi hasil Unas atau hasil nilai unas yang rendah ?   Jawabnya rata rata :  bersabarlah yang diurusi masih banyak!

Kesimpulan : Unas harus dikoreksi, acuannya dari PP 19 tahun 2005 atau yang terkait dan aspirasi masyarakat.

Surabaya, 19 Juni 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

free counters
%d bloggers like this: